Jangan Khawatir Berlebihan pada Neraca Perdagangan dan Rupiah

 

 

 

Banyak pihak yang mengkhawatirkan defisit neraca perdagangan Indonesia. Namun, kekhawatiran yang berlebihan atas hal tersebut bisa jadi merupakan sesuatu yang kurang berdasar.

Total ekspor dari Januari sampai November 2012 ekspor menurun 7.30% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor meningkat 9.92%. Penurunan ekspor yang signifikan terjadi pada ekspor migas (-10.5%) dan ekspor hasil tambang dan lainnya (-9.29%). Penurunan ekspor minyak dan gas serta hasil tambang berkorelasi dengan penurunan harga komoditas di pasar global, terkait ekonomi dunia yang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan impor lebih disebabkan oleh peningkatan impor nonmigas dibanding impor migas. Impor nonmigas selama periode Januari-November 2012 mengalami peningkatan 10.77% dari periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan impor migas meningkat 4.84%. Apabila perubahan total impor selama 2012 dilihat menurut golongan penggunaan barang, impor yang paling banyak mengalami peningkatan adalah impor barang modal (19.74%), disusul oleh impor bahan baku/penolong (7.87%). Sedangkan impor barang konsumsi justru menurun 0.38% dari setahun sebelumnya.

Porsi impor barang konsumsi dalam struktur impor Indonesia menempati porsi yang paling kecil dibanding golongan impor lainnya. Impor barang konsumsi merupakan 6.95% dari total impor, sedangkan impor barang modal adalah 19.95% dari total impor, dan yang paling besar dari impor Indonesia adalah impor bahan baku/penolong yang sebesar 73.10%.

 

Di sisi lain, peningkatan impor barang modal dapat mencerminkan bahwa kegiatan investasi di Indonesia makin meningkat. Dalam perhitungan PDB Indonesia, pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) yang mencerminkan faktor investasi, memiliki proporsi sekitar 33%. Dengan data bahwa peningkatan impor tertinggi terjadi pada golongan impor barang modal, dapat dikatakan bahwa peningkatan impor turut mencerminkan peningkatan aktivitas pembentukan modal atau investasi di sektor riil di Indonesia.

Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS justru dapat menjadi berita yang menyejukkan bagi para eksportir di Indonesia. Hal ini disebabkan dua hal. Pertama, pelemahan Rupiah membuat harga produk ekspor mereka dapat menjadi lebih kompetitif dibanding produk sejenis dari negara lain. Kedua, bagi para eksportir komoditas, pelemahan nilai Rupiah berarti nilai pendapatan ekspor dalam Rupiah dapat meningkat. Hal tersebut dapat mengimbangi penurunan pendapatan yang diakibatkan penurunan harga komoditas di pasar global, terkait perlambatan laju perekonomian dunia.

Tentu saja, pelemahan Rupiah yang terlalu besar dalam waktu yang singkat juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi Indonesia. Dollar yang terlalu kuat dapat membuat harga barang impor menjadi mahal, sehingga meningkatkan inflasi di dalam negeri, sesuatu yang lazim disebut cost push inflation. Untuk Indonesia, porsi impor barang konsumsi yang rendah dari total impor membuat dampak kenaikan harga barang impor tidak terjadi secara langsung. Dampak inflasi dapat terjadi melalui tindakan produsen yang menaikkan harga barang akibat harga bahan baku yang tinggi.

 

Sepanjang tahun 2012 Rupiah melemah terhadap Dollar AS sekitar 8% setahun, sementara pada periode yang sama terjadi peningkatan inflasi domestik dari 3.79% per-tahun di akhir 2011 menjadi 4.3% pada akhir 2012. Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa dampak pelemahan Rupiah terhadap inflasi pada tahun 2012 adalah tidak signifikan.

Pelaku usaha dapat saja terdorong menaikkan harga produk berbahan baku impor di pasar domestik, apabila fluktuasi kurs Rupiah sangat tinggi, yang membuat perhitungan estimasi laba-rugi pelaku usaha tersebut menjadi terancam. Sehingga, peran otoritas moneter (Bank Indonesia) untuk menjaga stabilitas Rupiah menjadi sangat penting untuk mengurangi ketidakpastian bagi dunia usaha, yang juga dapat berdampak pada stabilitas inflasi domestik. Berdasarkan data terakhir, cadangan devisa Indonesia pada Desember 2012 mencapai USD112.78 miliar, tercatat tertinggi dalam 8 bulan terakhir. Cadangan devisa yang memadai akan mendukung kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.

Neraca Perdagangan yang defisit dan Rupiah yang melemah tidak harus berdampak negatif bagi nilai investasi anda di pasar modal. Pada 2012, dengan defisit neraca perdagangan dan pelemahan Rupiah, nilai IHSG masih meningkat sebesar 12.94% setahun. Defisit neraca perdagangan Indonesia didorong oleh pertumbuhan impor barang modal yang tinggi, yang mencerminkan pertumbuhan investasi di sektor riil Indonesia juga tinggi. Investasi yang tinggi dapat berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.  Sehingga, jangan khawatir berlebihan pada neraca perdagangan dan Rupiah.

 

 

Catatan Penting yang Perlu Diperhatikan:  Pandangan dan pendapat dalam artikel ini adalah dari penulis dan tidak mencerminkan kebijakan resmi atau posisi PT Indo Premier Investment Management. Meskipun artikel ini didukung oleh penelitian dan data oleh penulis, namun hasil perhitungan dan keakuratannya tidak dijamin. Seluruh informasi dan keterangan yang disampaikan melalui artikel ini hanya merupakan informasi dan/atau keterangan yang tidak dapat diartikan sebagai suatu saran/advise bisnis tertentu, karenanya tidak bersifat mengikat. Segala hal yang berkaitan dengan diterimanya dan/atau dipergunakannya artikel tersebut sebagai pengambilan keputusan bisnis dan/atau investasi adalah merupakan tanggung jawab pribadi atas segala risiko yang mungkin timbul. Sehubungan dengan risiko dan tanggungjawab pribadi atas artikel ini, pengguna dengan ini menyetujui untuk melepaskan segala tanggung jawab dan risiko hukum PT Indo Premier Investment Management dan/atau perusahaan terafiliasi serta karyawannya atas diterimanya dan/atau dipergunakannya artikel ini .

 

H.V. Surya