INDONESIA ETF – Ilustrasi

Hasbi sedang pusing tujuh keliling.  Gimana enggak pusing katanya, uang tabungan yang bertahun-tahun dia kumpulkan habis begitu saja gara-gara semuanya dipindahkan  dari deposito ke pasar saham.

Padahal, sebelum dia investasi/trading di pasar saham, dia sudah pelajari semua teknik dan teori investasi , baik itu analisa teknikal ataupun analisa fundamental dari berbagai macam buku yang dia beli, maupun dari beberapa seminar yang dia ikuti.  Selain itu Hasbi memang bukan orang sembarangan.  Sejak 5 tahun yang lalu dia sudah menjabat sebagai Senior Vice President salah satu perusahaan manufaktur terkemuka di Indonesia.  Dia juga lulus suma cum laude program S2 Matematika dari salah satu universitas terkemuka di Indonesia.  Pendek kata, Hasbi sangat kompeten.

Lalu apa yang salah pikir si Hasbi.  Buka-buka catatan tradingnya Hasbi berkesimpulan bahwa dia trading terlalu sedikit jumlah saham sehingga risiko non-sistematis portofolionya  terlampau besar.  Sering dia tergocek-gocek berita negatif ataupun positif dari perusahaan yang sahamnya dia miliki. Akibatnya, tingkat kebisingan (noise) dari portofolionya  menjadi sangat besar.  Noise ini membuat sinyal tradingnya jadi buram atau tidak jelas sehingga dia sering salah membaca sinyal sistim tradingnya tersebut. Lalu solusinya?  Teringat dengan teori diversifikasinya si Markowitz, sebaiknya dia harus lebih mendiversifikasi portofolionya pikirnya.   Mungkin lebih baik kalau trading indeks (tapi bukan indeks futures lho).  Dengan begini, risiko non-sistematis portofolionya  akan jauh menurun.  Otomatis juga dengan noisenya.   Akibatnya, sinyal dari sistim trading  dia akan jauh lebih jelas, lebih terfokus dengan tajam.  Ini dapat memperbaiki kinerja portofolionya  pikirnya.  Hmmm, brilyan pikirnya. Kenapa enggak dia jalanin dari dulu katanya.  Bukannya Markowitz sudah menuangkan hal ini sejak tahun 1952? Aah, better late than never katanya. Tingkat kepercayaanya kembali pulih.  Kali ini, dia tidak akan tergocek-gocek lagi. Kalaupun masih bisa tergocek, itu adalah karena faktor pasar secara keseluruhan, bukan satu persatu saham yang gocekkannya bisa bikin dia pusing tujuh keliling. Gocekan pasar adalah gocekan yang lebih nyata karena dibutuhkan uang yang besar untuk menggoyang pasar secara keseluruhan.  Enggak gampang kalau ada yang ingin mencoba-coba.  Menggocek (menggoreng) satu atau dua saham jauh lebih mudah. Jadi, lebih aman investasi ke pasar secara keseluruhan. Demikian kesimpulan si Hasbi. (Lihat Reksadana Indeks).

 Okay, trading indeks is the way, gumamnya. Tapi, Hasbi masih bingung. Setahu dia, di pasar modal (bukan bursa berjangka – futures), kalau mau investasi di indeks, ada dua instrumen : Reksadana indeks dan ETF (exchange trade fund). Mana yang lebih baik?  Hmmm, perlu dipelajari dulu.  Pola pikir analitikal si Matematikawan ini langsung bekerja. Dan dia terkejut membaca bahwa ETF di listing di bursa dan dapat di tradingkan layaknya seperti saham.  Anda akan dapat jual atau beli ETF sesuai harga bid/offer yang ada di layar montitor trading anda, pada detik itu. Harga yang tercantum adalah harga yang berlaku.  Sebaliknya, nilai Reksadana Indeks harus menuggu akhir hari (tutup bursa) untuk dapat ditentukan.

Dengan kata lain dengan ETF berlaku WHAT YOU SEE IS WHAT YOU GET (apa yang anda lihat, itu yang anda bisa dapatkan, jika dieksekusi saat itu), suatu fitur yang tidak berlaku bagi reksadana indeks.  Hasbi kemudian berpikir bagaimana kalau indeks nyemplung (turun) -10% dalam satu hari padahal paginya, saat indeks baru turun -2% dia sudah mau keluar agar tidak rugi terlampau besar?  Dengan ETF, dia bisa keluar pagi itu dan bisa mungkin hanya rugi -2%, dengan reksadana indeks, dia harus tunggu pada harga penutupan bursa dan kemungkinan besar rugi -10%. Dan sebaliknya jika indeks naik pesat dalam satu hari.  Satu faktor ini saja sudah cukup bagi si Matematikawan ini untuk membuat keputusan: Dia akan menggunakan ETF untuk trading indeks.

Enam bulan berlalu sejak ia mulai menggunakan ETF, Hasbi merasa cukup bangga dengan kinerja portfolio tradingnya. Rasio kesuksesan sinyal tradingnya meningkat signifikan karena noise jauh berkurang. Kepercayan diri Hasbi juga semakin meningkat.  Tapi, dia masih belum puas karena dia belum memanfaatkan sepenuhnya sistim eksekusi ETF yang, menurut temannya, bisa lebih meningkatkan rasio kesuksesan trading portofolionya.  Instrumen ETF dia sudah paham dengan baik. Sistim eksekusi ETF perlu dia pelajari lagi, menurutnya.  Hasbi adalah seorang optimizer/optimalist.  Kalau belum optimal, dia tidak akan puas.

Sistim eksekusi ETF ini akan menjadi topik di artikel  selanjutnya.

Klik: PRO Untuk mengenal lebih jauh mengenai ETF Indonesia dengan tiker  R-LQ45X

 

JDI

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: