Value Averaging

Jika anda suka dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), kemungkinan besar anda akan suka juga dengan strategi Value Averaging (VA). Sama dengan DCA, VA juga adalah strategi berdasarkan formula, tidak perlu anda pusing-pusing menebak kemana pasar akan bergerak, ikuti saja formulanya. Perbedaan utama dari kedua strategi adalah jika dengan DCA anda akan menginvestasikan uang anda secara konstan nilainya (misalnya Rp. 1 juta) per bulan, minggu atau per hari, baik jika pasar turun ataupun naik, maka dengan VA, nilai investasi per periodenya bisa berubah-ubah. Bahkan adakalanya, jika pasar naik drastis, anda tidak perlu menginvestasikan uang anda lagi, malahan formula VA akan mengintruksikan anda untuk ambil untung (profit taking). Jadi jika DCA mengharuskan anda untuk beli, beli dan beli di pasar naik ataupun turun dengan nilai rupiah yang konstan (unit berubah-ubah sesuai harga pasar), VA tidak mengharuskan anda untuk beli setiap saat. Ada kalanya jual malah dianjurkan oleh VA, terutama jika pasar naik tinggi. Inilah daya tarik VA, karena lebih cocok dengan psikologis investor. Karena, jika pasar naik tinggi, bukankah lebih baik jual sebagian daripada tambah lagi investasi anda?

Jika pasar turun, maka tingkah laku VA mirip dengan DCA. Dua-duanya akan menganjurkan anda untuk membeli. Bedanya, VA akan lebih agresif membeli, sementara itu DCA tetap menganjurkan pembelian dengan konstan Rupiah (misalnya Rp 1 juta per bulan).

Di pasar saham yang nota bene bias positif , kecenderungan naik lebih besar dari kecenderungan turun, VA secara teoritis akan mengalahkan DCA. Namun jika krisis pasar berkepanjangan, jelas DCF akan outperform VA gara-gara si VA akan beli secara agresif jika pasar turun. Tapi, sekali lagi, dalam jangka panjangnya, di pasar yang bias positif, VA seharusnya mengalahkan DCA Hasil-hasil riset di pasar modal dunia juga menunjukkan VA lebih baik dari DCA maupun strategi buy and hold. Bagaimana di Indonesia?

Di Indonesia, di periode awal 2008 sampai Agustus 2010, hasilnya juga sama. Terutama karena pasar saham (IHSG) bergerak secara V-shape, berbentuk V ataupun U. Ini jelas akan menguntungkan VA karena VA akan beli secara agresif pada saat pasar turun dan menikmati kenaikkan setelahnya. Di periode tersebut VA menghasilkan return +66%, sedangkan DCA cukup lumayan dengan return +53%. Buy and hold? Ya positif sih, tapi hanya positif 12%. Memang tidak mengherankan karena VA dan DCA sangat berguna di pasar yang voloatile, berfluktuasi tajam. .

Yang jelas DCA dan VA akan meningkatkan probabilitas investasi anda akan untung. Kalau anda adalah tipe investor yang sering kalah melulu atau mudah terkecoh oleh fluktuasi pasar yang tajam, saya sarankan anda coba metode VA dan DCA ini. Di pasar yang positif bias, VA cenderung akan outperform DCA.. Namun DCA lebih konservatif dari VA.

Dengan menggunakan reksadana dan VA atrau reksadana dan DCA, kemungkinan investasi anda positif jadi cukup besar. Lihat saja hasil penggunaan kedua metode diatas pada saat pra dan sesudah krisis. Hasilnya selain sangat positif, break even juga diperoleh sudah sejak di kuartal I 2009!

Formula based investing seperti VA dan DCA sangat cocok bagi anda yang sibuk dan tidak mau pusing memikirkan pasar, tapi ingin mendapatkan hasil yang baik dari investasi anda. Sekarang sudah ada tools yang ampuh untuk mencapai tujuan tersebut:
VA atau DCA + ReksadanaOnline.

Banyak yang memperkirakan ini akan menjadi trend of the future. Ibaratnya, kalau anda bisa mengetik pakai computer+MSWord, ngapain harus menggunakan mesin ketik lagi?
Dulu Samurai sangat di hormati dan di takuti di Jepang. Tapi, setelah ada teknologi baru seperti pistol, kedigjayaan sang Samurai langsung runtuh (lihat film The Last Samurai nya si Tom Cruise). Sekarang pistol tersebut sudah tersedia dalam bentuk Reksadana online + VA dan DCA. Kenapa anda harus menggunakan pedang lagi (investasi manual) untuk mengalahkan pasar?
Be one step ahead of your peers dan join ribuan investor yang sudah menikmati reksadana online. It’s powerful (ampuh) dan convenient (nyaman).

Advertisements

3 Responses

  1. Setuju, tp menurut sy model fund yg bydesign menerapkan DCA lebih pas dgn dashboard indexfund yg fullydiversified…agar dpt meminimkan cost utk mncapai bentuk U dan V yg tdk bs dtntukan jngka waktuny kpn …well, mdh2n Danrek mjd pelopor beragamnya tema-tema unik mutualfund ke depan agar ‘kepercayaan’ tiap-tiap investor indonesia terakomodir 🙂

  2. Pak John,
    Pak saya agak bingung jika membeli reksadana dengan strategi VA
    misal, saya beli setiap tanggal 5, lantas harga NAB nya memakai
    yang tanggal brp ? krn ntuk tgl % sendiri harga NAB baru diketahui esok harinya, mhn petunjuknya, terima -kasih.

  3. Maaf ada kesalahan tulisan, yang % adalah 5 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: