Black Swan, Fat Tail dan Risiko Tak Terduga

Krisis tahun 2008 kembali membuktikan ketidak becusan risk management model yang digunakan oleh bank2, investment banks dan institusi keuangan lainnya. Padahal, ketidak beresan ini sudah ter exposed sejak tahun 1990an, terutama sejak jatuhnya LTCM (Long Term Capital Management) , hedge fund ternama yang dijalankan oleh mantan bos Salomon Brothers – John Merriwheter di backup beberapa staff bertitel Phd dibidang Finance, Ekonomi maupun Matematika., termasuk pemenang Nobel Robert Merton dan Myron Scholes.

Masalah utama dari model yang digunakan, seperti model-model lainnya, adalah dari asumsi yang digunakan. Pasar diasumsikan bergerak secara random walk, hari ke hari pergerakannya independent dan distribusi return hariannya terdistribusi secara normal. Dengan asumsi ini. Probabilitas pasar akan turun 8 hari berturut-turut jadinya = 0.5 pangkat 8 atau sama dengan 0,00396, suatu hal yang sangat kecil sekali kemungkinannya.

Padahal, seperti kita ketahui, dipasar sering terjadi positive feedback.. Harga turun kemarin, diikuti penurunan lagi hari ini dan bisa membawa penurunan lagi dikemudian hari , dan seterusnya. Dengan kata lain, pergerakan pasar dari hari ke hari tidak independent. Terutama pada saat krisis, terdapat serial correlation pergerakan harga dari hari ke hari. Akibatnya, risikonya tidak sekecil seperti yasng diperhitungkan oleh model yang menggunakan asumi distribusi normal.

Faktanya pergerakan pasar tidak mengikuti distibusi normal. Karena ada positive feedback distribusinya lebih berbentuk fat tail. Akibatnya, probabiitas (kemungkinan) kejadiannya jadi lebih besar. Hal ini yang sering tidak terdeteksi kebanyakan model risk management . Makanya banyak yang sering terkejut pada saat krisis terjadi. Black Swan sering di under estimate.

Value Averaging

Jika anda suka dengan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), kemungkinan besar anda akan suka juga dengan strategi Value Averaging (VA). Sama dengan DCA, VA juga adalah strategi berdasarkan formula, tidak perlu anda pusing-pusing menebak kemana pasar akan bergerak, ikuti saja formulanya. Perbedaan utama dari kedua strategi adalah jika dengan DCA anda akan menginvestasikan uang anda secara konstan nilainya (misalnya Rp. 1 juta) per bulan, minggu atau per hari, baik jika pasar turun ataupun naik, maka dengan VA, nilai investasi per periodenya bisa berubah-ubah. Bahkan adakalanya, jika pasar naik drastis, anda tidak perlu menginvestasikan uang anda lagi, malahan formula VA akan mengintruksikan anda untuk ambil untung (profit taking). Jadi jika DCA mengharuskan anda untuk beli, beli dan beli di pasar naik ataupun turun dengan nilai rupiah yang konstan (unit berubah-ubah sesuai harga pasar), VA tidak mengharuskan anda untuk beli setiap saat. Ada kalanya jual malah dianjurkan oleh VA, terutama jika pasar naik tinggi. Inilah daya tarik VA, karena lebih cocok dengan psikologis investor. Karena, jika pasar naik tinggi, bukankah lebih baik jual sebagian daripada tambah lagi investasi anda?

Jika pasar turun, maka tingkah laku VA mirip dengan DCA. Dua-duanya akan menganjurkan anda untuk membeli. Bedanya, VA akan lebih agresif membeli, sementara itu DCA tetap menganjurkan pembelian dengan konstan Rupiah (misalnya Rp 1 juta per bulan).

Di pasar saham yang nota bene bias positif , kecenderungan naik lebih besar dari kecenderungan turun, VA secara teoritis akan mengalahkan DCA. Namun jika krisis pasar berkepanjangan, jelas DCF akan outperform VA gara-gara si VA akan beli secara agresif jika pasar turun. Tapi, sekali lagi, dalam jangka panjangnya, di pasar yang bias positif, VA seharusnya mengalahkan DCA Hasil-hasil riset di pasar modal dunia juga menunjukkan VA lebih baik dari DCA maupun strategi buy and hold. Bagaimana di Indonesia? Continue reading