Harga Minyak, APBN dan Hedging

Baca buku-buku mengenai ‘Peak Oil Theory’ cukup meyakinkan saya bahwa harga minyak tinggi tampaknya tidak dapat dihindarkan.  Usd 150 sampai usd 200 pr barrel bukan lagi angka yang muluk. Oleh karena itu, ada baiknya pemerintah untuk mulai mempertimbangkan untuk hedging atas kemungkin melambung terusnya harga minyak di pasar dunia.  Cara terbaik adalah dengan menggunakan oil futures market.

Beberapa perusahaan penerbangan dunia sudah mulai melakukan hedging harga minyak sejak beberapa tahun yang lalu. Hasilnya, untuk 2 – 3 tahun kedepan, rata-rata harga minyak mereka hanya sekitar USD 55 per barrel! 

Memang benar untuk melakukan hedging perlu biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, biaya ini tidak akan seberapa dibandingkan potensi biaya yang akan timbul jika harga minyak mencapai USD 200 per barell, baik itu biaya ekonomi maupun sosial (economic and social unrest).

Tanpa hedging, negara kita akan terus terombang-ambing oleh gejolak di pasar minyak. Jika harga minyak terus naik, APBN kita akan tambah berdarah-darah. Tidak ada salahnya bagi kita untuk mengurangi pendarahan ini. Cara tercepat dan terbaik untuk memberhentikan pendarahan ini adalah dengan melakukan hedging. Baru, setelah itu, fokus dapat dialihkan untuk mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah permintaan (penggunaan) BBM yang relatif tinggi ini.

Tapi, sekali lagi, dalam jangka pendek ini, we have to stop the bleeding now. Karena kalau tidak, seperti yang Keynes katakan: In the long run, we are all dead.

Harga minyak memang masih ada kemungkinan turun lagi. Akan tetapi, menurut peak oil theory, penurunannya tidak akan seberapa. Potensi kenaikkan harga masih jauh lebih mungkin daripada potensi penurunan harga. Atau, dengan kata lain, potensi upside vs downside tidak sebanding. Jadi, hedge!

 

Just a thought.