Saham, Growth dan P/E (2)

Pernah dengar perusahaan bernama Yahoo? Tentu saja. Sebagai pengguna jasa internet, hampir pasti anda mengenal perusahaan ini. Yahoo sampai sekarang masih mendominasi bisnis internet segmen technology/internet services provider. Lalu, bagaimana dengan kinerja saham Yahoo? Pastinya bagus dong? Mungkin tidak seperti yang anda bayangkan. Kenapa bisa begitu? Masalah utamanya adalah masalah valuasi Yahoo di awal 2000 yang terlampau tinggi, akibat, antara lain, ekspektasi laju pertumbuhan laba Yahoo yang terlampau tinggi. Selain, tentunya, situasi pasar yang irasional di tahun 2000.

Di awal 2000, ditengah euphoria dot.com mania, harga saham Yahoo menjulang begitu tinggi mencapai level P/E sekitar 623x. Kenapa bisa setinggi itu? Karena pelaku pasar ber-ekspektasi laba Yahoo akan tumbuh 56% per tahun untuk 10 tahun kedepan. Dengan pertumbuhan yang tinggi tersebut, P/E setinggi itu adalah wajar, kata Mr. Market, karena dengan menggunakan ekspektasi laba 10 tahun kedepan, P/Enya hanya sekitar 27x.

Ok, kalau begitu mau gimana lagi? Market is always right, right? Wrong! Seperti kata si Mr. Warren Buffet, market sering berperilaku irasional atau aneh sehingga memungkinkan ‘Value’ unvestor seperti si Mr. Buffet ini untuk membeli saham di harga murah, atau menjual saham di harga mahal.

Dalam kasus Yahoo ini, ekspektasi pasar terlampau berlebihan. Kalaupun laba Yahoo tumbuh sesuai ekspektasi pasar (56% p.a.), dalam 5 tahun P/E Yahoo hanya turun menjadi 122x lebih! Benar, dalam 10 tahun, P/Enya bisa jadi 27x. Tapi,. inipun kalau pertumbuhan Yahoo sesuai skenario ekspektasi pasar. Bagaimana kalau meleset, misalnya pertumbuhan Yahoo dibawah 56% pertahun?

Kenyataannya, dari tahun 2000 sampai dengan 2006, laba Yahoo hanya tumbuh sekitar 17% pertahun. Akibatnya, mudah ditebak. Pasar melakukan penyesuaian harga saham, sesuai dengan laju pertumbuhan yang lebih sesuai dengan kenyataan. Terjadi kontraksi P/E. Harga saham terkoreksi tajam, sampai titik terendah di tahun 2003 pada harga dibawah 20. Sekarang (September 2007) Yahoo di transaksikan pada P/E level sekitar 50x. Harga sahamnya masih jauh dibawah harga tertinggi di tahun 2000.

Bayangkan, 7 ½ tahun sudah berlalu, harga saham masih belum kembali ke harga di tahun 2000. Padahal bisnis dan laba Yahoo terus tumbuh. Bisnis tumbuh, harga saham melorot. Gara-gara over valuation akibat ekspektasi berlebihan.

Kasus yang sama terjadi di banyak saham-saham lainnya. Kita ambil contoh beberapa saja. Baik Sun Micro System maupun JDS Uniphase kasusnya lebih parah dari Yahoo. Padahal Sun Micro System (salah satu produk terkenalnya : Java) pada saat itu “hanya” di jual pada P/E 120x, tidak setinggi Yahoo yang dijual pada P/E level diatas 600x. Kenapa bisa begitu? Ya sama saja. Karena laju pertumbuhan tidak sesuai ekspektasi, P/E dikontraksi oleh pasar secara drastis, tanpa ampun.

Mungkin perlu 10 tahun lagi bagi harga saham perusahaan-perusahaan tersebut untuk mencapai harga tetinggi mereka di tahun 2000!

  1. Yahoo (YHOO)

Expected growth 55.9%/yr;

Actual growth 2000-2006 (fiscal) = 17% /yr.

P/E tahun 2000 = 623x;

P/E 2007 (current) = 50x.

Harga tertinggi thn 2000 = 120an;

Harga tertinggi 2007 (current) = 33 .

 

  1. Sun Micro System (JAVA)

Expected growth 21%/yr;

Actual growth 2000-2006 (fiscal) = Not applicable,

sering rugi.

P/E tahun 2000 = 119x;

P/E 2007 (current) = 43x.

Harga tertinggi thn 2000 = 80an ;

Harga tertinggi 2007 (current) = 7 .

 

  1. JDS Uni Phase (JDSU)

Expected growth 44%/yr;

Actual growth 2000-2006 (fiscal) = Not applicable,

masih rugi.

P/E tahun 2000 = 668x;

P/E 2007 (current) = Not applicable, masih rugi.

Harga tertinggi thn 2000 = 1500an ;

Harga tertinggi 2007 (current)= 19 .

 

Inilah contoh nyata betapa riskannya membeli saham di level P/E yang sangat tinggi. Kalau pertumbuhan laba tidak sesuai ekspektasi, anda hanya bisa gigit jari melihat harga saham terjun bebas. Ekspektasi adalah….. ya….., ekspektasi. They are often wrong. Apa lagi kalau ekspektasinya dibuat untuk jangka waktu yang sangaaaat panjang. Ingat Chaos Theory? Belum lagi kalau misalnya data laba di manipulasi dengan berbagai trik accounting, seperti kasus Enron, Worldcom, dsb. Kasus terakhir ini akan saya bahas di posting-posting selanjutnya.

Pelajaran yang bisa dipetik dalam kasus ini : Hati-hati jika membeli saham dengan P/E yang tinggi serta perkiraan laba yang muluk-muluk. Sebaiknya anda hitung ulang berkali-kali. Gunakan beberapa skenario / asumsi, seperti optimis/netral/pesimis. Dan gunakan konsep margin of safetynya Benjamin Graham. Ingat, makin jauh forecast horizon yang anda gunakan, makin besar kemungkinan kesalahannya (forecast error), oleh karena itu, margin of safetynya juga perlu diperbesar.

Advertisements

4 Responses

  1. Bila P/E tinggi berarti juga resiko tinggi pada saham, tidakkah itu juga berlaku pada P/E Market?

    Pada posisi awal Agustus 2007 ini posisi P/E Market Regional menurut Bloomberg adalah:

    Bombay Sensex Index 26,7x
    Shanghai Composite 26,4x
    Hong Kong Hang Seng Index 21,5x
    Jakarta Stock Exchange Index 19,6x
    Singapore STI 18,4x
    Taiwan TSEC 18,2x
    Malaysia TSEC 17,4x
    S. Korea KOSPI 14,0x
    Thailand SET 12,4x

    Apa iya JSX justified dengan P/E Ratio 19,6x…?

  2. Yes, tentunya ini berlaku untuk P/E JSX juga. Walau P/E JSX sudah cukup tinggi, pasar masih beranggapan PEGnya masih rendah. Tentunya semakin tinggi P/E JSX, semakin tinggi juga resikonya. Kalau ternyata growth dari perusahaan-perusahaan komponen JSX tidak sesuai ekspektasi, JSX bisa saja terkoreksi tajam.

  3. Bung Item, saya merasa indeks JSX agak distortif.

    Mengapa? Karena saham-saham berkapitalisasi terbesarnya mayoritas adalah BUMN – dan free floatnya relatif terbatas – karena pemerintah berkeras tetap memiliki porsi saham minimal 50%. Mengingat prinsip dasar hukum ekonomi: ketika demand meningkat sementara supply terbatas – maka harga akan cenderung naik. Ketika portfolio manager internasional memasukkan “Indonesia” dalam portofolionya — mereka tidak punya banyak pilihan – hingga akhirnya cenderung membeli saham yang “itu-itu lagi” sekalipun free float-nya rendah. (dan ini menjadi vicious circle).

    Sepuluh emiten dengan kapitalisasi terbesar menguasai 50% kapitalisasi JSX. Dan dari 10 emiten tersebut 4 adalah BUMN – dan boleh dikata tidak satupun memiliki free float di atas 40%…! Mungkin ini bisa menjadi sebagian penjelasan mengapa P/E Market JSX bisa sedemikian tinggi dan mungkin akan tetap tinggi, sekalipun valuasi metode The Fed hanya menjustify P/E market JSX sebesar 13x.

    Selama alokasi investasi global masih terus bertumbuh — suka tidak suka mekanisme ini akan memaksa JSX terus ke atas semata-mata karena masalah supply constraint.

    Menurut anda bagaimana?
    (BTW, senang bertemu anda kembali setelah sedemikian lama tidak kontak lagi via milis saham@yahoogroups.com)

  4. Good point, Dilain pihak, banyak juga investor asing yang menggunakan MSCI sebagai benchmark, dimana faktor free float juga diperhitungkan. Ada yang lain mau komentar, langsung saja masuk . Mengenai P/E wajar nanti saya, kalau sempat, Sabtu atau Minggu akan tulis mengenai ini.
    Ya, senang juga bisa ketemu lagi. Masih di Euro Capital?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: