Market, Management, Chaos, Complex Adaptive Systems

Pada tahun 1992, di pesawat, dalam perjalanan menuju Los Angeles, saya membaca buku “Chaos”, karangan James Gleick. Kemudian, ditahun 1993, pada saat training di Singapore, waktu saya masih bekerja di Citibank – Jakarta, saya menemukan buku “Chaos And Order In Capital Market”, karangan Edgar E. Peters. Di tahun 1994, lagi-lagi di Los Angeles, saya menemukan buku “Complexity” karangan M. Waldrop. Ke 3 buku ini membuka mata saya, merubah cara pandang saya, dan menjawab banyak pertanyaan yang tidak terjawab di kuliah saya dulu. Ke 3 buku ini setidaknya membuka mata saya kenapa:

1. Ekonom sering salah membuat forecasting (makanya Ekonomi sering disebut sebagai dismal science).

2. Planning, budgeting perusahan-perusahan maupun negara sering, atau selalu, meleset, sehingga selalu perlu di revise.

3. Pasar saham susah di prediksi (makanya saya suka kagum dengan analyst-analyst yang dengan pede nya membuat forecast 5 tahun kedepan).

4. Dsb.

Inti dari ke 3 buku tersebut: Apa yang diajarkan di kuliah serta literatur tulisan para akademisi kebanyakkan mengenai sistim “linear,” walaupun sistim-sistim tersebut sebenarnya “non-linear.” Sistim linear lebih mudah dianalisis dan mathematical toolsnya sudah sangat komprehensif sehingga wajar kalau hal ini yang lebih sering diajarkan atau dibahas. Tapi, tentu saja tidak tepat kalau kita terus menggunakan methode linear untuk menganalisis sistim non-inear. Jelas tidak kena, sering meleset.

Sistim ekonomi, misalnya, lebih diajarkan sebagai linear system. Walaupun ada model adaptive, tapi masih tetap dalam kerangka linear. Rational expectation theory dsb kelihatannya elegan secara matematis, tapi, tetap saja teorinya mostly linear dan systemnya tidak “complex.” Padahal Ekonomi sebenarnya merupakan “complex adaptive system,” open-loop system, parameternya bisa berubah-ubah. Mathnya lumayan heavy (lihat Santa Fe Institute punya papers). Untuk definisi complex system, bisa di google “complex system.” Complex bukan berarti variabelnya banyak, tapi lebih output behaviornya yang complex, susah di predict atau di analisis, karena banyak non-linear, interactive dan adaptive (can change) komponennya. Boleh dikata, complex adapative system adalah system yang non-deterministic.

Akhir-akhir ini ada upaya untuk melakukan analisa ekonomi dengan menggunakan pendekatan (approach) “physics atau fisika.” Tapi, setelah membaca beberapa literature Econophysics, saya tetap merasa complex adaptive system adalah system yang lebih cocok

Dilain pihak, pendekatan Econophysics mungkin lebih menarik bagi aplikasi di dunia investasi (investment), karena banyak tools yang dapat diterapkan, walaupun tidak sempurna.

Technical analysis umpamanya, banyak menggunakan tools-tools dari dunia science, engineering dan physics. Contohnya : Brownian motion, wave theory, cycle analysis, fourier transform, spectral analysis, signal processing, feedback control, momentum, neural network, genetic algorithm, dsb.

Options valuation menggunakan brownian motion sebagai asumsi dasar pergerakan harga saham.

Dengan Ito lemma, maka bisa di dapat Black-Scholes partial (stochastic) differential equationnya yang mirip heat atau diffussion equation di fisika.

Black-Scholes PDE atau SDE lumayan bagus untuk valuasi options (kontrak opsi), tapi tetap saja tidak sempurna. Kenapa? Karena asumsi distribusi market return masih menggunakan “normal distribution,” padahal kita tahu market “tails” nya agak “fat.”

Pernah bingung kenapa pasar saham gerakannya aneh, tidak sesuai harapan atau prediksi anda? Selain mungkin dipermainkan bandar, alasan lainnya yang lebih mengena adalah pasar saham adalah complex adaptive system. Jadi, kelakuannya sering susah ditebak.

Just a random thought.

Advertisements

3 Responses

  1. very good article. mostly agree with what you said.

  2. too complex to be true :)…
    maybe we should listen to Classic Expert – Sir Isaac Newton “I can calculate the movement of the stars, but NOT the madness of men.” after losing a fortune (£20,000) in the bubble of The South Sea Company.

  3. Mostly saya agree pak…

    Dari sudut saya…Kalau kita mau profit dalam trading….bukanlah forecast2 yang kita buat….tapi lebih pada Money Management, Risk Management dan konsistensi

    Harga bergerak berdasar keadaan dan situasi yang terjadi..saat harga itu bergerak..oleh karena itu forecasting jangka panjang seringkali menimbulkan false signal.

    Beberapa pengembangan trading system dengan pendekatan Technical analysis banyak yang mengalami kebuntuan. Neural network yang sering dianggap sebagai system yang canggih dan dynamis…terkadang tidak selamanya ampuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: