Reksadana Indeks – Kompas

31 May 2006
RDI, Alternatif Investasi Unggul

John David Item
 

Bagi banyak investor, menganalisis arah indeks jauh lebih mudah daripada menganalisis arah pergerakan saham satu per satu. Masalahnya, untuk mengekspresikan pandangan mereka dengan membeli seluruh saham di bursa adalah tidak praktis dan mahal. Untuk mengatasi masalah ini, investor bisa mencoba reksa dana indeks.

Reksa dana indeks memudahkan investor untuk mengakses pasar modal dengan biaya yang relatif rendah serta risiko yang terdiversifikasi.

Pada dasarnya, reksa dana indeks (RDI) adalah reksa dana yang dikelola secara pasif, dengan tujuan utama menghasilkan kinerja yang mengikuti kinerja indeks tertentu (misalnya S&P 500, Dow Jones 30, Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG, atau Jakarta Islamic Indeks/ JII) dengan biaya minimal.

Nama-nama saham maupun bobot masing-masing saham di RDI akan mirip dengan indeks. Jadi, misalnya saham A memiliki bobot 10 persen di indeks, maka di RDI saham A juga cenderung akan memiliki bobot 10 persen.

Selain biaya rendah, RDI relatif lebih transparan karena komposisi portofolionya jelas, mirip indeks, dan hanya berubah sedikit, terutama jika ada perubahan komposisi indeks yang diikuti.

Sama seperti reksa dana lainnya, risiko RDI juga terdiversifikasi. RDI tertentu, diversifikasi risikonya bahkan lebih luas karena jumlah saham atau obligasi di portofolionya lebih banyak dari reksa dana lainnya yang biasanya hanya 10 sampai 20.

Manfaat utama dari RDI adalah dari segi biaya yang relatif lebih murah dibandingkan reksa dana aktif. Karena dikelola secara pasif, RDI bisa menghemat biaya-biaya pengelolaan jika dibandingkan, misalnya, pengelolaan reksa dana secara aktif. Akibatnya, rasio biaya terhadap total aset (expense ratio) RDI bisa jauh lebih kecil dibandingkan reksa dana aktif.

Sebagai gambaran, di Amerika Serikat (AS), rata-rata expense ratio RDI berkisar sekitar 0,6 persen, jauh lebih kecil dibandingkan reksa dana aktif yang rata-rata 2 persen.

Komponen biaya RDI terdiri dari biaya administrasi (selling fee, subscription fee, custody fee) dan biaya transaksi. Perbedaan utama biaya RDI dibandingkan reksa dana aktif pada biaya transaksi. Biaya transaksi adalah biaya yang ditanggung reksa dana untuk pembelian dan penjualan saham atau instrumen lainnya.

Selain komisi broker, ada juga biaya perbedaan (spread) beli-jual (bid-ask) yang harus ditanggung. Dan, jika dananya besar, terjadi juga apa yang namanya biaya dampak pasar (market impact). Biaya ini terjadi karena misalnya RDI ingin membeli saham X dalam jumlah yang besar. Karena jumlahnya besar, saham X yang tadinya diperkirakan bisa dibeli di harga Rp 1 .000, ternyata bergerak naik karena adanya pembelian besar tersebut. Akibatnya, saham A tersebut terbeli di harga rata-rata Rp 1.100. Dalam hal ini, Rp 100 merupakan biaya market impact.

Karena dikelola secara pasif, perputaran atau turn over (beli-jual saham) portofolio RDI relatif lebih jarang dibandingkan reksa dana aktif. Akibatnya, biaya transaksi RDI relatif lebih kecil.

Menurut hasil penelitian pakar-pakar keuangan di AS, pertumbuhan dana investor hasil investasi di pasar modal ternyata lebih banyak, sekitar 80 persen-90 persen ditentukan oleh pemilihan tipe aset mana yang dipilih oleh investor. Sisanya (10-20 persen) baru ditentukan oleh saham mana yang mereka pilih. Oleh karena itu, para investor disarankan untuk memfokuskan diri pada alokasi (pemilihan) aset dalam proses keputusan investasi mereka, bukan pemilihan saham per saham (stock picking). Tipe aset yang dipilih bisa antarkelas aset seperti saham, obligasi, atau pasar uang (money market) atau bisa juga dalam kelas yang sama dengan kategori yang berbeda, misalnya saham perusahaan besar (big cap), saham perusahaan kecil (small cap), saham bertumbuh (growth), saham bernilai menarik (value), sektor keuangan, teknologi , dan sebagainya.

Hasil penelitian tersebut setidaknya meringankan beban investor dalam membuat keputusan investasi. Kalau dulu mereka harus memilih saham-saham mana yang layak untuk dibeli, yang jumlah pilihannya bisa ratusan sampai ribuan nama saham, kini pilihannya hanya dalam hitungan satuan sampai puluhan tipe aset (saham, obligasi, atau pasar uang) atau kategori aset (growth, value, big cap, small cap) saja. Tapi, masalah lain timbul. Untuk membeli seluruh saham di sektor tertentu, jelas tidak praktis dan membutuhkan biaya yang besar. Di sinilah reksa dana indeks bisa memainkan peran yang baik karena memberikan kemudahan bagi investor untuk mengakses sektor yang diminatinya.

Di AS, industri reksa dana merespons kebutuhan investor di atas dengan menawarkan produk-produk berbasis indeks, baik itu indeks berbasis pasar luas (broad market index), indeks berbasis sektoral (teknologi, finansial), maupun berbasis gaya (style) atau kategori (growth, value). Akibatnya, industri reksa dana indeks yang dirintis oleh John Bogle pada tahun 1975 tumbuh dengan pesat hingga sekarang mencapai nilai 2,2 triliun dollar AS (saham), 900 miliar dollar AS (obligasi), dan 1,1 triliun (saham dan obligasi internasional). Pangsa pasar reksa dana indeks yang pada tahun 1970-an masih di bawah lima persen kini sudah di atas 30 persen dan terus meningkat.

Tren yang sama juga terjadi di negara-negara besar lainnya. Tren ini mengindikasikan adanya pergerakan tingkah laku investor dunia dari yang biasanya mengandalkan pemilihan saham (stock picking) sebagai alat keputusan utama, ke arah investasi pasif dengan menggunakan, antara lain, instrumen reksa dana indeks (indexing) untuk mencapai tujuan investasi mereka.

Prospek di Indonesia

Di Indonesia, sejarah RDI masih berada dalam tahap awal, mirip AS pada tahun 1975. Sampai saat ini, baru dua reksa dana berbasis indeks yang ditawarkan ke publik, yaitu reksa dana indeks obligasi Bahana Asian Bond Fund dan reksa dana indeks saham Danareksa Dinar.

Danareksa Dinar adalah RDI saham dengan tujuan utama mengikuti pergerakan indeks JII. Dalam pembentukan atau penyesuaian portofolionya, Dinar menggunakan gabungan antara metode replikasi penuh dan pengelompokan sampel.

Replikasi penuh adalah metode di mana reksa dana akan membeli seluruh saham yang ada dalam indeks dengan bobot persis sama dengan indeks. Tetapi karena metode ini kurang praktis dan perlu biaya transaksi yang relatif lebih besar, dianggap perlu dikombinasikan dengan metode pengelompokan sampel.

Dengan metode ini, jumlah saham yang dibeli bisa jauh lebih sedikit. Dengan penggabungan metode ini, Dinar hanya memerlukan pembelian saham sekitar 80 persen sehingga lebih efisien dari segi eksekusi dan biaya transaksi.

Tentunya, dengan hanya 80 persen replikasi, bobot masing-masing saham di Dinar tidak 100 persen sama dengan indeks. Akibatnya bisa terjadi sedikit perbedaan kinerja atau yang dalam bahasa teknisnya disebut tracking error. Ini sudah diantisipasi.

Penggabungan dua metode tersebut juga dilengkapi program optimisasi yang dibuat sedemikian rupa sehingga tracking error menjadi sangat minimal. Selain itu, dari 80 persen nama yang dibeli, total bobotnya di indeks pun sudah mencapai 98 persen.

Sebagai tambahan, tracking error adalah suatu yang umum bagi semua reksa dana indeks sebagai konsekuensi timbal balik (trade-off) antara biaya transaksi yang ingin dihemat dan perbedaan kinerja yang dapat ditoleransi. Juga biasa dijadikan indikator untuk mengetahui seberapa baik manajer investasi mengikuti pergerakan indeks.

Bagi sebagian investor, produk yang hanya menawarkan kinerja seperti kinerja pasar (indeks) mungkin kurang menarik. Tapi, kalau kita ambil contoh kinerja indeks Jakarta Islamic Index (JII) selama 5 tahun terakhir, pandangan ini mungkin bisa sedikit berubah. Dalam 5 tahun terakhir JII menghasilkan kinerja 39 persen per tahun, suatu kinerja yang sangat baik, bahkan setara dengan kinerja reksa dana saham (aktif) terbaik di Indonesia dalam periode yang sama.

Apakah reksa dana berbasis indeks akan berevolusi dengan baik seperti apa yang terjadi di AS? Tentunya masih terlampau pagi untuk dapat kita pastikan. Akan tetapi, melihat faktor teori ekonomi keuangan yang kuat yang mendasari diciptakannya produk ini, biaya pembelian yang rendah, serta adanya unsur kemudahan untuk mengakses pasar modal, dan prospek kinerja yang cukup potensial (di atas rata-rata, bahkan mungkin bisa terbaik) bukan tidak mungkin sukses di AS bisa terjadi di sini.

John David Item Head of Asset Management Danareksa Investment Management

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: